JAKARTA – Saham bank-bank milik negara mencatat penguatan serempak sepanjang perdagangan pekan ini. BBRI menjadi yang terkuat dengan kenaikan 3,53%, sementara arus dana asing serta membaiknya sejumlah indikator ekonomi domestik ikut menopang kinerja sektor perbankan.
BBRI Jadi Penguat Terbesar
Mengacu pada data Refinitiv, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mengakhiri perdagangan Jumat (21/8/2026) di level Rp3.230 per saham. Harganya naik 2,87% dalam sehari.
Dalam sepekan, BBRI menguat 3,53%. Dibandingkan posisi penutupan pekan sebelumnya sebesar Rp3.120, harga saham bank yang memiliki fokus kuat pada segmen UMKM tersebut telah meningkat Rp110 per lembar.
Kinerja positif juga terlihat pada saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI). Secara mingguan, BBNI naik 2,75% hingga berada di level Rp3.730. Pada perdagangan Jumat, saham tersebut bahkan melonjak 3,90%, menjadi kenaikan harian tertinggi di antara saham Himbara.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) turut mencatat penguatan. Saham BMRI bertambah 1,20% selama sepekan dan ditutup pada Rp4.220. Khusus perdagangan Jumat, BMRI naik 1,69%.
Sementara itu, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) mencatat pertumbuhan paling kecil di antara saham Himbara, yakni 0,41% secara mingguan. BBTN berakhir di Rp1.225 setelah menguat 1,66% pada Jumat.
Sebagai bank yang berfokus pada pembiayaan perumahan, prospek BBTN turut berkaitan dengan perkembangan penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) serta arah suku bunga domestik.
Saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) juga bergerak positif. BRIS ditutup pada Rp1.805, naik 2% pada perdagangan Jumat, sekaligus membukukan kenaikan 0,83% sepanjang pekan.
Dana Asing Masuk ke Sejumlah Saham Himbara
Kenaikan saham bank pelat merah tersebut berjalan beriringan dengan aktivitas investor asing. Data Activity Summary Indo Premier Sekuritas (IPOT) menunjukkan adanya pembelian bersih asing terutama pada BBRI, BBNI, dan BRIS.
BBRI mencatat foreign inflow terbesar, mencapai Rp745,3 miliar di pasar reguler sepanjang pekan. Arus dana asing pada saham tersebut juga tetap positif dalam empat pekan terakhir sejak awal Agustus.
Besarnya pembelian asing turut menjadi salah satu faktor yang mendukung posisi BBRI sebagai saham Himbara dengan kenaikan mingguan paling tinggi.
BBNI juga memperoleh pembelian bersih asing sebesar Rp38,6 miliar. Adapun BRIS mencatat net buy asing sebesar Rp14,1 miliar.
Berbeda dengan ketiga saham tersebut, BMRI dan BBTN masih mengalami net sell dari investor asing. Meski begitu, nilai penjualan relatif terbatas sehingga belum cukup untuk menekan kinerja kedua saham tersebut sepanjang pekan.
Artinya, penguatan saham Himbara tidak semata-mata bergantung pada arus modal asing. Sentimen pasar domestik yang membaik turut memberikan dorongan, terutama terhadap saham-saham perbankan berkapitalisasi besar.
Pertumbuhan Kredit Perbankan Makin Kuat
Dari sisi fundamental, sektor perbankan Indonesia masih menunjukkan kondisi yang solid. Bank Indonesia mencatat pertumbuhan kredit mencapai 13,58% secara tahunan pada Juli 2026, meningkat dari 12,67% pada Juni.
Kenaikan tersebut mencerminkan permintaan pembiayaan yang masih terjaga. Bagi perbankan, pertumbuhan kredit membuka peluang peningkatan pendapatan bunga, termasuk bagi kelompok Himbara yang memiliki porsi besar dalam penyaluran pembiayaan nasional.
Kondisi permodalan dan kualitas aset juga relatif kuat. Pada Juni 2026, rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan berada di 23,70%.
Pada periode yang sama, rasio kredit bermasalah atau NPL bruto tercatat 2,09%, sedangkan NPL neto berada di 0,82%. Sementara itu, rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) pada Juli 2026 berada di level 23,10%.
Bank Indonesia juga masih menerapkan kebijakan makroprudensial yang longgar untuk mendorong pembiayaan ke sektor-sektor prioritas. Hingga pekan pertama Agustus 2026, insentif Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang diterima industri perbankan telah mencapai Rp446,5 triliun.
Tiga Sentimen yang Menopang Saham Himbara
Selain fundamental perbankan, sejumlah perkembangan ekonomi domestik maupun global ikut membentuk sentimen positif terhadap saham bank BUMN.
BI Pertahankan BI Rate 5,75%
Bank Indonesia memilih mempertahankan suku bunga acuannya dalam Rapat Dewan Gubernur pada 18-19 Agustus 2026.
BI Rate tetap berada di 5,75%, sementara Deposit Facility dipertahankan pada 4,75% dan Lending Facility sebesar 6,50%.
Kebijakan tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah gejolak global yang dipengaruhi konflik di Timur Tengah. BI juga menargetkan inflasi tetap berada dalam kisaran 2,5% plus minus 1% pada 2026 dan 2027 sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Bagi sektor perbankan, tidak adanya kenaikan suku bunga memberikan kepastian terhadap biaya pembiayaan dalam jangka dekat. Kondisi tersebut berpotensi membantu mempertahankan permintaan kredit sekaligus mengurangi tekanan terhadap kemampuan debitur memenuhi kewajibannya.
Keputusan BI juga membuat pasar saham tetap memiliki daya tarik relatif dibandingkan instrumen berisiko lebih rendah. Kenaikan suku bunga yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan imbal hasil obligasi pemerintah dan mendorong perpindahan dana dari saham.
Defisit Neraca Pembayaran Menyusut
Sentimen positif lainnya berasal dari perkembangan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI). Pada kuartal II-2026, NPI mencatat defisit US$900 juta, jauh lebih rendah dibandingkan defisit US$9,1 miliar pada kuartal pertama.
Perbaikan tersebut terutama berasal dari transaksi modal dan finansial yang berbalik mencatat surplus US$12 miliar. Pada kuartal sebelumnya, transaksi tersebut masih mengalami defisit US$4,8 miliar.
Meningkatnya investasi langsung serta investasi portofolio menjadi pendorong utama. BI mencatat surplus investasi portofolio meningkat seiring membaiknya imbal hasil instrumen keuangan domestik.
Arus investasi tersebut menjadi sinyal bahwa aset keuangan Indonesia masih memiliki daya tarik di tengah ketidakpastian global. Masuknya modal juga membantu memberikan dukungan terhadap rupiah dan pasar saham domestik.
Meski demikian, perbaikan NPI tidak berasal dari transaksi berjalan. Defisit transaksi berjalan justru melebar menjadi US$12,5 miliar atau 3,3% terhadap PDB, dari US$3,6 miliar atau 1% terhadap PDB pada kuartal sebelumnya.
Dengan demikian, penyempitan defisit NPI terutama terjadi karena surplus transaksi modal dan finansial mampu mengimbangi pelebaran defisit transaksi berjalan.
Dolar AS Tertekan
Dari pasar global, pelemahan dolar AS turut memberikan sentimen positif bagi aset negara berkembang, termasuk saham Indonesia.
Indeks dolar AS (DXY) berada di bawah tekanan setelah muncul kekhawatiran mengenai kondisi fiskal Amerika Serikat. Utang pemerintah AS telah melewati US$40 triliun, sementara kebutuhan penerbitan surat utang diperkirakan masih tinggi untuk membiayai defisit anggaran.
Tekanan jual pada obligasi pemerintah AS kemudian mendorong kenaikan imbal hasil. Yield Treasury 30 tahun sempat mencapai 5,34%, level tertinggi sejak 2007.
Untuk meredakan tekanan tersebut, Departemen Keuangan AS meningkatkan program pembelian kembali atau buyback surat utang jangka panjang.
Batas maksimal pembelian kembali obligasi tenor 10-30 tahun dinaikkan setidaknya dua kali lipat, dari US$2 miliar menjadi minimal US$4 miliar setiap operasi. Kebijakan tersebut berlaku untuk operasi pada 9 September hingga 4 November 2026.
Pengumuman itu kemudian mendorong penurunan imbal hasil obligasi AS jangka panjang sekitar 10 basis poin. Pada saat yang sama, DXY turun 0,84% menjadi 98,80.
Tekanan terhadap dolar juga terlihat dari pergerakannya terhadap euro, yang sempat berada di sekitar level terendah dalam tiga bulan pada Jumat.
Pelemahan dolar AS memberikan ruang lebih besar bagi aset negara berkembang. Bagi Indonesia, kondisi tersebut dapat mengurangi tekanan terhadap rupiah sekaligus membuka peluang bagi investor global untuk meningkatkan eksposur pada aset berisiko.
Penutup
Kinerja positif saham Himbara sepanjang pekan ini terbentuk dari kombinasi sejumlah faktor. Arus dana asing yang masuk ke BBRI, BBNI, dan BRIS menjadi salah satu pendorong, sementara pertumbuhan kredit nasional serta kondisi permodalan perbankan yang tetap kuat memberikan dukungan dari sisi fundamental.
Di tingkat makro, keputusan BI mempertahankan suku bunga, penyempitan defisit NPI, serta pelemahan dolar AS turut memperbaiki sentimen terhadap aset domestik. Kombinasi faktor tersebut membuat saham-saham bank pelat merah mampu mengakhiri pekan dengan kinerja positif.








