JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Jumat dengan penguatan. Sentimen positif dari bursa Asia turut menopang pergerakan pasar saham Indonesia, sementara investor masih mencermati perkembangan ekonomi global serta sejumlah agenda kebijakan dalam dan luar negeri.
IHSG ditutup naik 24,10 poin atau 0,37 persen ke level 6.525,69. Penguatan juga terjadi pada indeks LQ45 yang bertambah 5,85 poin atau 0,92 persen menjadi 644,59.
Bursa Asia dan Data Jepang Jadi Perhatian
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai penguatan pasar saham Asia turut memberikan sentimen positif bagi IHSG. Pelaku pasar merespons sejumlah indikator ekonomi Jepang sekaligus menunggu agenda kebijakan China.
Salah satu data yang menjadi perhatian adalah PMI Manufaktur S&P Global Jepang. Pada Agustus 2026, indeks tersebut meningkat menjadi 55,1, dari 54,5 pada Juli 2026.
Kinerja tersebut memperpanjang ekspansi aktivitas manufaktur Jepang menjadi delapan bulan berturut-turut. Pertumbuhan pada Agustus juga menjadi yang terkuat sejak April 2026.
Kondisi industri semakin ditopang oleh peningkatan pesanan baru dengan laju tercepat sejak Januari 2018. Penjualan ke pasar ekspor turut mencatat pertumbuhan paling kuat sejak awal 2018.
Investor Menanti Agenda Ekonomi China
Perhatian berikutnya tertuju ke China. Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional dijadwalkan menggelar pertemuan di Beijing pada 25-28 Agustus 2026.
Pasar mengharapkan adanya arah kebijakan tambahan setelah sejumlah indikator ekonomi China untuk Juli 2026 menunjukkan pelemahan. Perkembangan tersebut dinilai menjadi salah satu faktor penting bagi investor dalam membaca prospek ekonomi kawasan.
Di Amerika Serikat, pergerakan Wall Street masih dibayangi volatilitas. Sejumlah keputusan Departemen Keuangan AS kembali menyoroti persoalan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah tenor panjang.
Menurut Nico, tingginya biaya pembiayaan pemerintah dapat memberikan tekanan yang lebih luas terhadap perekonomian sekaligus pasar saham. Kondisi tersebut berlangsung setelah periode panjang inflasi serta tingginya belanja pemerintah.
Harga Minyak Naik di Tengah Ketegangan AS-Iran
Sentimen dari pasar komoditas juga menjadi perhatian. Harga minyak mentah melanjutkan kenaikan ketika Amerika Serikat bersiap menerapkan sanksi ekonomi baru yang lebih luas terhadap Iran.
Ketegangan kedua negara masih berkaitan dengan sengketa atas Selat Hormuz. Pemerintah AS disebut tengah menyiapkan langkah untuk mempersempit akses Iran terhadap sistem ekonomi internasional.
Kebijakan tersebut mencakup upaya membatasi hubungan Teheran dengan jaringan keuangan dan perdagangan global, termasuk bank, perusahaan, registrasi kapal, transfer dana, hingga jaringan penyelundupan.
Defisit NPI Indonesia Menyusut
Dari domestik, Bank Indonesia mencatat Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mengalami defisit 900 juta dolar AS pada triwulan II 2026.
Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan defisit pada triwulan sebelumnya yang mencapai 9,1 miliar dolar AS pada triwulan I 2026.
Investor domestik juga bersiap mencermati rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait penghapusan batas harga minimum saham sebesar Rp50.
Kebijakan tersebut diarahkan untuk meningkatkan likuiditas serta efisiensi perdagangan. Selama lebih dari satu dekade, batas harga Rp50 diterapkan sebagai perlindungan terhadap penurunan harga yang terlalu tajam. Di sisi lain, sejumlah investor menilai aturan tersebut dapat menimbulkan distorsi pada perdagangan saham berharga rendah.
Nico menilai penghapusan batas minimum berpotensi membuat harga saham lebih mencerminkan mekanisme permintaan dan penawaran. Kebijakan itu juga dinilai sejalan dengan agenda penguatan likuiditas pasar ekuitas Indonesia, meski terdapat risiko meningkatnya aktivitas spekulatif pada saham berharga rendah.
Delapan Sektor Menguat
Sepanjang perdagangan Jumat, IHSG bergerak di zona positif sejak pembukaan. Penguatan tersebut bertahan hingga penutupan sesi pertama dan kembali terlihat menjelang berakhirnya perdagangan sesi kedua.
Berdasarkan indeks sektoral IDX-IC, delapan sektor tercatat mengalami kenaikan. Sektor infrastruktur menjadi penguat terbesar dengan pertumbuhan 0,61 persen.
Setelahnya, sektor barang baku naik 0,57 persen, sedangkan sektor keuangan bertambah 0,31 persen.
Sebaliknya, terdapat tiga sektor yang berakhir di zona merah. Sektor kesehatan mencatat penurunan paling dalam, yakni 0,73 persen. Sektor teknologi turun 0,38 persen, sementara sektor transportasi dan logistik melemah 0,29 persen.
Sejumlah saham mencatat penguatan terbesar, yakni CSMI, GRIA, SDMU, PIPA, dan BLUE. Sementara saham yang mengalami tekanan terbesar antara lain HATM, SMLE, TCPI, AEGS, dan IKPM.
Aktivitas Transaksi BEI
Aktivitas perdagangan saham pada Jumat tercatat cukup tinggi. BEI membukukan 2.234.000 kali transaksi, dengan volume perdagangan mencapai 56,72 miliar saham.
Nilai transaksi sepanjang perdagangan mencapai Rp17,37 triliun. Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 332 saham menguat, 314 saham melemah, sedangkan 317 saham tidak mengalami perubahan.
Di kawasan regional, sejumlah indeks juga bergerak positif. Nikkei turun 0,36 persen ke 66.040,00. Sementara Shanghai naik 0,04 persen menjadi 3.905,20.
Hang Seng menguat 1,21 persen ke 25.008,46, sedangkan Kospi naik 0,88 persen ke 6.912,95. Indeks Straits Times Singapura turut menguat 0,32 persen ke 5.690,08.
Pergerakan IHSG selanjutnya akan dipengaruhi oleh perkembangan pasar global, agenda kebijakan China, dinamika harga minyak, serta sentimen terhadap rencana perubahan mekanisme perdagangan saham di BEI.













