JAKARTA – Harga emas kembali berada di bawah tekanan. Pada perdagangan Selasa (1/9/2026), logam mulia tersebut merosot 2,7% setelah kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) dan penguatan dolar AS memicu aksi jual di pasar.
Mengacu pada data Refinitiv, emas ditutup pada US$4.328,6 per troy ons. Level tersebut menjadi yang terendah sejak 6 Agustus 2026.
Penurunan tajam itu sekaligus memperpanjang tren negatif emas. Dalam tiga sesi perdagangan terakhir, harga emas telah terkoreksi sekitar 6%.
Meski demikian, tekanan mulai mereda pada perdagangan Rabu (2/9/2026). Pada pukul 06.56 WIB, harga emas tercatat naik tipis 0,05% menjadi US$4.330,83 per troy ons.
Yield Obligasi AS Jadi Beban Emas
Analis pasar American Gold Exchange Jim Wyckoff menilai pelemahan emas tidak terlepas dari tekanan teknikal yang terjadi di pasar.
Menurut Wyckoff, kenaikan imbal hasil obligasi di berbagai negara hingga mencapai level yang tidak terlihat dalam beberapa tahun terakhir turut membebani daya tarik emas.
Ia juga menyoroti penurunan harga emas hingga berada di bawah moving average 200 hari sebagai sinyal teknikal yang penting bagi pasar.
Tekanan terhadap emas semakin kuat setelah imbal hasil Treasury AS meningkat ke level tertinggi sejak Januari 2025 pada Selasa. Kondisi tersebut terjadi ketika meningkatnya ketegangan di Timur Tengah memunculkan kekhawatiran terhadap inflasi dan mendorong aksi jual obligasi secara global.
Secara historis, emas kerap menjadi salah satu aset yang digunakan sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Namun, ketika suku bunga dan imbal hasil Treasury meningkat, daya tarik emas dapat berkurang karena investor menghadapi biaya peluang lebih tinggi saat memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Pada saat yang sama, penguatan dolar AS meningkatkan biaya pembelian emas bagi investor di luar AS.
Pasar Kembali Perhitungkan Kebijakan The Fed
Tekanan terhadap emas juga berlangsung setelah harga logam mulia tersebut sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan pada pekan sebelumnya.
Harga emas kemudian anjlok lebih dari 3% pada Jumat setelah Kevin Warsh, Ketua Federal Reserve AS, menegaskan bahwa The Fed masih perlu mengambil langkah jika inflasi belum bergerak menuju target 2%.
Pernyataan tersebut membuat pelaku pasar meningkatkan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga pada September. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada bulan ini kini mencapai 66%.
Perhatian investor berikutnya tertuju pada sejumlah indikator ekonomi AS. Pasar akan mencermati laporan ketenagakerjaan ADP pada Rabu dan data nonfarm payrolls pada Jumat untuk menentukan arah kebijakan ekonomi AS selanjutnya.
Wyckoff memperkirakan pergerakan emas dalam waktu dekat masih menghadapi tekanan. Menurut dia, skenario yang paling mungkin adalah harga bergerak mendatar atau cenderung melemah dalam jangka pendek. Prospek serupa juga berlaku untuk perak.
Harga Perak Turut Tertekan
Koreksi tidak hanya terjadi pada emas. Harga perak juga mengalami penurunan tajam pada perdagangan Selasa (1/9/2026).
“Berdasarkan data Refinitiv, harga perak mengakhiri perdagangan di US$64,25 per troy ons, turun 3,4% dari sesi sebelumnya.”
Penurunan tersebut membawa harga perak ke level terendah sejak 7 Agustus 2026.
Tekanan terhadap perak masih berlanjut pada perdagangan Rabu (2/9/2026). Pada pukul 07.03 WIB, harga komoditas tersebut turun 0,1% menjadi US$64,18 per troy ons.











