JAKARTA – PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk mencatat kinerja yang cukup kontras sepanjang semester I-2026. Pendapatan perusahaan milik Raffi Ahmad dan Nagita Slavina mengalami penurunan, tetapi laba justru tumbuh dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Mengacu pada laporan keuangan konsolidasian interim per 30 Juni 2026 yang belum diaudit, RANS membukukan pendapatan Rp149 miliar. Angka tersebut menyusut 13,2% dibandingkan semester I-2025 yang mencapai Rp171,6 miliar.
Di tengah tekanan pendapatan tersebut, laba periode berjalan malah meningkat 11% menjadi Rp23,76 miliar dari Rp21,4 miliar. Laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga tumbuh 12,5% menjadi Rp25,57 miliar.
Kenaikan kinerja tersebut turut tercermin pada laba per saham. Indikator ini meningkat dari Rp2,25 menjadi Rp2,54.
Sejumlah Segmen Bisnis Mengalami Penurunan
Penurunan omzet RANS terjadi karena beberapa lini usaha mencatat pertumbuhan negatif. Segmen konten media sosial, misalnya, mengalami penurunan pendapatan 19,2%.
Pendapatan dari monetisasi akun media sosial Raffi Ahmad dan Nagita Slavina tercatat Rp42,3 miliar, lebih rendah dibandingkan Rp52,3 miliar pada semester I tahun sebelumnya.
Tekanan lebih besar terjadi pada bisnis duta merek dan talent management. Pendapatan dari segmen tersebut merosot 47% menjadi Rp19,4 miliar, dari sebelumnya Rp36,5 miliar.
Bisnis produk berbasis intellectual property (IP), yang mencakup makanan, minuman, dan kecantikan, juga belum mampu mempertahankan capaian tahun lalu. Pendapatannya turun 19,5% menjadi Rp43,1 miliar.
Meski demikian, pelemahan tiga segmen tersebut mendapat kompensasi dari kinerja production house, acara, dan ticketing. Pendapatan dari lini ini justru tumbuh 53,9%, dari Rp28,6 miliar menjadi Rp44 miliar.
Efisiensi Menjadi Penopang Laba
Pertumbuhan laba RANS di tengah penurunan pendapatan terutama ditopang oleh pengendalian biaya operasional.
Beban penjualan berhasil ditekan hampir separuhnya. Dari Rp11,96 miliar pada semester I-2025, pos tersebut turun menjadi Rp6,06 miliar atau berkurang 49,3%.
RANS juga mengurangi beban umum dan administrasi sebesar 8,5%, dari Rp26,8 miliar menjadi Rp24,5 miliar.
Strategi efisiensi tersebut membuat laba operasi tetap bertumbuh meskipun laba kotor mengalami penurunan. Laba kotor turun 8,1% menjadi Rp64,2 miliar, sedangkan laba operasi justru meningkat 8,3% menjadi Rp33,6 miliar dari Rp31 miliar.
Dengan demikian, penurunan biaya operasional berlangsung lebih cepat dibandingkan pelemahan pendapatan dan laba kotor. Kondisi inilah yang menjadi salah satu faktor utama terjaganya pertumbuhan laba perusahaan.
Pos Non-Operasional Masih Menekan
Di luar aktivitas operasional, RANS masih menghadapi sejumlah tekanan. Kerugian dari entitas asosiasi meningkat dari Rp329,7 juta menjadi Rp1,1 miliar.
Pendapatan keuangan neto juga mengalami penurunan pada periode tersebut. Namun, tekanan dari pos non-operasional itu belum mampu membalikkan dampak positif dari peningkatan laba operasi.
Kinerja semester I-2026 akhirnya menunjukkan bahwa penurunan pendapatan belum otomatis berujung pada penurunan laba. Bagi RANS, pengurangan biaya menjadi faktor penting yang mampu menopang profitabilitas ketika sejumlah lini bisnis mengalami pelemahan.















